Kamis, 09 Januari 2014

r u t i n i t a s


Olah raga, istirahat cukup, mengkonsumsi makanan dengan nutrisi seimbang adalah sebagian dari rutinitas yang wajib dilakukan untuk tetap sehat.

Rutinitas sebagai kegiatan yang sama dan dilakukan berulang,
untuk banyak  orang adalah dianggap hal yang membosankan, membelenggu kebebasan, sehingga dalam menjalani hidupnya dilakukan tanpa ada batasan.
Serba bebas, mau tidur kapan, bangun kapan, makan apa dan tak terikat waktu, apalagi mau olahraga, mustahil.

Untuk yang berpandangan seperti ini,
mereka melawan satu kepastian yang tidak mungkin dihindari, yaitu rutinitas itu sendiri.
Kita semua hidup dengan rutinitas perputaran waktu,dari siang menjadi malam dan menjadi siang kembali, musim yang berputar sepanjang tahun.
Dan agar diingat rutinitas proses kehidupan  dimulai  dari lahir , tumbuh dan akhir dari rutinitas di dunia yaitu kematian.
Dengan mengingat hal tersebut, dapat diambil jalan tengah ; bebaslah sebebas-bebasnya manusia.
Sebagai manusia, lahir disertai akal untuk menjalani dan menikmati hidup,sehingga manfaatkanlah kesempatan hidup sebebas-bebasnya dan seimbangkanlah dengan kenyataan  rutinitas  kehidupan.

Saat lahir kita teratur disusui ibu kita, teratur beristirahat, kemudian masa balita teratur belajar makan, demikian bertahan keteraturan hingga kita bertambah usia dan mulai merasa bisa menentukan sendiri,  saat remaja sampai dewasa.
Pada titik ini sebenarnya,saat mulai merasa bisa menentukan sendiri, dimulai pilihan mau sehat sampai akhir atau sebaliknya.

Demikian dengan memahami rutinitas kehidupan agar dapat menikmati karunia hidup secara fisik dan secara psikis pun untuk menikmatinya perlu perasaan yang positif .
Jiwa yang damai yang menikmati hidup dan siap untuk hidup berikutnya.

"Apabila telah ditunaikan salat, bertebaranlah kamu di muka bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung" (QS .Al Jumu'ah:10)

Membaca ayat di atas kita telah ditawarkan untuk menikmati hidup dan berdamai dengan rutinitas kehidupan,

dan inti dari segala rutinitas itu adalah salat.

Minggu, 05 Januari 2014

MAU KAPAN ke MESJID ?

Terlambat bangun
Masih belum sehat
Masih sibuk kerja.
Repot ngurus anak.
Acara televisi sedang seru.
Ada tamu

dan ....... lain-lain alasan saat pertanyaan di atas timbul
sehingga saat adzan berkumandang,tetap saja ada kaum lelaki berat kaki melangkah menuju mesjid.

"kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita" (QS. An Nisaa : 34)                              
"kalian semua adalah pemimpin dan seluruh kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin. Penguasa adalah pemimpin dan seorang laki-laki adalah pemimpin, wanita juga adalah pemimpin atas rumah dan anak suaminya "(Muttafaqun alaihi) 

Keutamaan kaum lelaki untuk melakukan salat wajib di mesjid, akan berdampak pada yang dipimpinnya, baik itu di rumahnya, di pekerjaannya , di lingkungannya.

Salat berjamaah di mesjid, 5 kali sehari pada waktu-waktu yang telah pasti
akan berdampak langsung terhadap kedisiplinan, keteraturan, kesehatan fisik dan mental, juga keseimbangan sosial .
Ibarat kareta api,lokomotifnya telah ada di rel yang benar maka gerbong dan seluruh isinya akan benar pula.

"jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu" (QS. Muhammad : 7)

Dengan segala alasan di atas, jadi mau kapan ke mesjid ?

Kamis, 02 Januari 2014

alas salat

Alas salat,
merupakan penutup lantai untuk membuat yakin kita salat di tempat yang bersih dan suci.
Sebenarnya salat langsung beralaskan tanah atau lantai tidaklah mengurangi nilai dari ibadah salat, selama terjaga kesuciannya.

Dengan meningkatnya kemampuan dan juga keinginan untuk merasa nyaman saat salat,
maka alas salat menjadi bagian yang melengkapi kegiatan salat.
Alas salat umumnya berupa tikar atau karpet yang menutupi seluruh ruangan untuk salat dan digunakan bersama-sama.

Ada lagi alas salat untuk pemakaian sendiri, berupa tikar kecil, disebut sajadah.
Sajadah menjadi kelengkapan seorang muslim dan dijadikan alas untuk salat jika sedang di perjalanan atau salat di luar mesjid.
Sajadah umumnya berbentuk persegi ukuran  sekitar 0,5m x 1m. Ada juga sajadah khusus untuk kepala bersujud, dengan ukuran lebih kecil.

Ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan :
1. Sering ditemui mesjid yang telah ditutup karpet, tetap ada jemaah yang memakai lagi sajadah miliknya. Untuk hal ini merupakan kewajiban jemaah tersebut menjaga sajadah miliknya terjamin bersih dan suci, sehingga alas mesjid tetap terjaga kebersihan dan kesuciannya.
2. Sebaiknya tidak berbagi tempat sujud di sajadah yang dibawa perseorangan, karena ada penyakit mata dan beberapa penyakit saluran napas dapat menular lewat udara, memungkinkan lewat tempat bersujud.
3. Untuk salat berjemaah di mesjid, sering dijumpai jemaah menggunakan sajadah super lebar, seolah-olah menunjukan wilayah sajadahnya daerah kekuasaan yang tak boleh tersentuh orang lain.
Ini dapat mengurangi keutamaan salat berjemaah, yaitu rapatnya barisan dalam berjamaah.
4. Jika salat di mesjid yang telah dilapis karpet,lebih baik menggunakan sajadah kecil saja yang khusus untuk kepala bersujud . Kalaupun membawa sajadah besar, lipatlah untuk secukupnya tempat kepala bersujud saja.

Rabu, 01 Januari 2014

TAHUN BARU , MENJADI LEBIH BAIK ?


Tahun berubah,
dan hari ini saat bangun adakah yang berubah ?

Saya membayangkan betapa lelahnya saudara-saudara saya yang telah berpesta menunggu bergantinya hari.Ada yang rela bermacet-macet di jalanan, berdesakan di tempat hiburan ,menahan kantuk menunggu lewatnya jarum jam dari jam 12 malam

 Menurut saya berubahnya hari, bulan ataupun tahun adalah suatu kepastian yang akan kita hadapi, selama kita memperoleh kesempatan mengikutinya.

Setelah sekian kali bertemu pergantian tahun, saya memperhatikan bahwa yang diuntungkan dengan adanya pesta besar-besaran di mana-mana hanyalah para penyelenggara kegiatan tersebut
yaitu pelaku bisnis dan penguasa .

Penyelenggara melihat kebutuhan akan 'rasa gembira' sebagai pelarian dari berbagai tekanan hidup. Dimana lepas dari pelarian yang satu maka akan cepat haus dengan pelarian yang lain, dari pesta yang satu ke pesta yang lain.

Tidaklah mengherankan bahwa kita menjadi terbiasa akan hal ini, sehingga selain 2 hari raya, yaitu Iedul Fitri dan Iedul Adha, kita mencari cara dan mencari pembenar untuk memperbanyak 'hari raya' yang hakekatnya identik dengan pesta. Sehingga sering terdengar polemik tentang peringatan saat lahirnya Nabi, Isro Mi'raj, tahun baru Hijriah bahkan kegiatan seputar meninggalnya seseorang.

Sebagai obyek dari acara tersebut, apakah hasil yang diperoleh ? apakah jiwa kita menjadi lebih kuat?
badan kita lebih sehat ?